INDONESIAWI 06


Alam selalu memiliki sistem yang terbaik bagi perputaran siklusnya sendiri. Tidak pernah akan dijumpai sistem yang salah pada alam apabila bekerja dengan siklusnya sendiri. Salah satu contohnya adalah siklus air. Dimulai dari air laut yang menguap akhibat terkena teriknya cahaya matahari, uap air kemudian terbawa oleh angin, jatuh ke bumi karena dingin dan di alirkan oleh parit ke sungai dan berakhir kembali di laut.

Tetapi setelah kita sebagai manusia turut campur dalam proses siklus alam, seringkali (selalu) malah bikin kacau sistem alam tersebut. Setelah kita meluluh ratakan kontur alam demi kebutuhan kita akan tempat tinggal, acap tanpa memikirkan bahwa sebelumnya kontur tersebut pastilah merupakan alur dari siklus alam. Sehingga aliran air hujan bisa jadi kacau dan tak terarah lagi seperti yang seharusnya.

Seperti halnya di indonesia, kita telah membuat satu solusi yang amat benar, yaitu pengadaan saluran air hujan (‘drainase’) di setiap sisi disepanjang jalan. Dengan harapan akan mewakili alur air hujan yang fungsinya telah kita rubah menjadi lahan hunian.

Namun ternyata masyarakat kita belum banyak yang benar-benar peduli akan pentingnya siklus alam tersebut, ‘drainase‘ yang biasa kita sebut sebagai selokan atau parit mulai beralih fungsi menjadi tempat pembuangan sampah. Maka berubahlah dari saluran air hujan menjadi ‘drainase sampah’.

Itu ‘indonesiawi’, ketidak pedulian adalah ciri dari masyarakat kita. “Yang penting rumah kita bersih itu cukup. Soal sampahnya dibuang ke selokan ya masa bodoh, kan pasti akan terbawa air ke hilir. Soal selokan mampet itukan kewajiban pemerintah untuk menanganinya (berdalih). Soal saudara-saudara kita yang di hilir kebanjiran itukan sudah nasibnya (cari pembenaran)”. Tapi apabila rumah kita juga termasuk yang kebanjiran, maka caki maki kitapun turut menggema. Dan bilang alam sudah tak mau bersahabat lagi.

Yang tidak mau bersahabat itu siapa? Yang tak tahu diri itu kita. Alam sudah menyediakan semua yang kita butuhkan, tapi malah kita rusaknya dengan ketidak pedulian. Setelah rusak dan berdampak kembali ke kehidupan kita barulah kita sadar. Betapa pentingnya untuk tetap menjaga siklus yang ada pada alam ini. Bahwa yang ada di alam itu sudah pada tatanan yang paling benar.

Maka dari itu apabila pada akhirnya kita harus memanfaatkan alam sebagai salah satu pemenuhan kebutuhan kita sebagai manusia, dengan cara harus merubahnnya, haruslah kita melakukannya dengan cara tanpa merusak tatanan alamianya. Dan belajar dari alam itu sendiri tentang bagaimana alam mengatur siklusnya. Dan pihak pemerintah juga harus tanggap akan hal itu, sehingga bisa pembuat aturan yang dapat mengarahkan masyarakat untuk turut mejaga kelestarian lingkungan hidup.